EKONOMI ISLAM BUKAN SEKEDAR ALTERNATIF
Agus Selamet, SE, MEi
Islam sebagai agama yang universal mengajarkan dan mempraktikan bahwa setiap garak langkah dalam kehidupan adalah ibadah, bernilai luhur dan merahmati seluruh alam, sehingga dikenal sebagai Rahmatan lilalamin.
Islam tidak hanya mengajarkan atau membimbing dalam dimensi ritual semata, tetapi mengajarkan seluruh aspek kehidupan seperti berekonomi, berbudaya, pendidikan, kesehatan, seni, idiologi, politik, sosial dan lain sebagainya.
Empat belas abad yang lalu Islam telah mengajarkan berbagai aspek kehidupan bagi ummatnya bahkan menjadi inspirasi ummat manusia diluar Islam, mereka banyak membuahkan teori-teori baru dengan mencontoh dari Islam.
Berbicara tentang Ekonomi, maka Islam adalah sumbernya¸ karena hanya Islam yang memiliki tatanan ekonomi yang orijinal, kuat dan kokoh, hal ini selain praktik-praktiknya yang adil juga dasar pijakannya adalah bersumber dari Tuhan yang maha pencipta yaitu Rabbul alamin, sehingga mencerminkan ekonomi yang bercirikan ketuhanan (Allah swt).
Hanya sayangnya eksistensi ekonomi Islam banyak mengalami hambatan yang diakibatkan oleh kaum yang tidak senang dengan kehidupan yang tidak mau diatur oleh Allah swt. Mereka ingin bebas dari hukum, bebas dari nilai dan menuruti hawa nafsu.
Untuk menerima Ekonomi Islam bukan hal yang mudah, hal ini karena masyarakat sudah terlanjur bermain praktik yang tidak islami seperti mereka sudah senang dengan uang dijadikan alat komoditi (uang dijual belikan dan uang dihutangkan seperti halnya barang), bisnis dengan spekulasi, bisnis dengan riba, bisnis dengan untung sebesar-besarnya dan penekanan biaya sekecil-kecilnya bila perlu tanpa biaya bahkan tidak siap menerima resiko (rugi).
Praktik lainnya adalah ketidakadilan para investor/pemodal, mereka berharap untung semata tidak memiliki jiwa patriot (penakut) untuk berbagi sesama berupa bagi hasil (untung dan rugi dibagi bersama), praktik busuk lainnya adalah bisnis dengan spekulasi atau perjudian, melakukan jual beli dengan tidak jelas barang dan siapa pembeli maupun penjualnya (jual beli saham yang tidak bersyariah).
Dari kalangan para kapitalis tidak sadar bahwa bencana ekonomi terbesar sepluh tahun yang lalu akibat mempraktikan fungsi uang bukan lagi sekedar alat tukar tetapi sudah dijadikan alat komoditi, uang sudah diperjual belikan bahkan uang dihutangkan sehingga lahirlah bunga berbunga, yang dalam pandangan Islam masuk dalam riba, karena penindasan bagi yang lain.
Untuk menghadapi praktik yang tidak sehat dan tidak berkeprimanusian dan keadilan tersebut ekonmi Islam harus didukung oleh ummat Islam yang sadar dan berharap kerinduan akan ekonomi yang menyelamatkan baik di dunia maupun di akhirat, karena hanya disinilah keselamatan dan keadilan yang hakiki akan lahir dengan sempurna.
Untuk mengajak sadar hijrah menuju Ekonomi Islam perlu adanya dukungan dari ummat Islam yang militan berorientasi akhirat dan bersungguh-sungguh mencari kehidupan dunia, Agustianto dalam artikelnya menyebutkan untuk melahirkan kekuatan ekonomi umat di Madinah, Nabi melakukan sinergi dan integrasi potensi ummat Islam. Beliau integrasikan suku Aus dan Khazraj serta Muhajirin dan Anshar dalam bingkai ukhuwah yang kokoh untuk membangun kekuatan ekonomi ummat. Muhajirin yang jatuh “miskin” karena hijrah dari Mekkah, mendapat bantuan yang signifikan dari kaum Anshar. Kaum Muhajirin yang piawai dalam perdagangan bersatu (bersinergi) dengan kaum Anshar yang memiliki modal dan produktif dalam pertanian. Kaum Anshar yang sebelumnya merupakan produsen yang lemah menghadapi konglomerat Yahudi, kini mendapatkan hak yang wajar dan kehidupan yang lebih baik. Kerjasama ekonomi tersebut membuahkan hasil gemilang dalam peningkatan kesejahteraan ekonomi ummat. Akhirnya banyak kaum muslimin yang membayar zakat, berwaqaf dan berinfaq untuk kemajuan Islam.
Kebijakan ekonomi Nabi Muhammad Saw di Madinah juga terlihat dari upaya Nabi Saw membangun pasar yang dikuasai ummat Islam. (Sebelumnya pasar-psar dominan dikuasai kaum Yahudi), sehingga konsumen Muslim dapat berbelanja kepada pedagang muslim. Dampaknya, semakin tumbuhlah perekonomian kaum muslimin mengimbangi dominasi pedagang Yahudi.
Spirit reformasi yang dipraktekkan Nabi Muhammad Saw bersama para sahabatnya dalam berhijrah, harus kita tangkap dan aktualisasikan dalam konteks kekinian, suatu konteks zaman yang penuh ketidakadilan ekonomi, rawan krisis moneter, kemiskinan dan pengangguran yang masih menggurita di bawah sistem dan dominasi ekonomi kapitalisme.
Sudahkah kita siap untuk melakukan konsolidasi ummat dalam berekonomi? Jawabannya harus siap, karena ekonomi Islam bukan sekedar alternatif tetapi suatu keharusan, dan jaminan kenyamanan maupun keamanan akan dberikan kepada siapa saja yang ikut praktik di dalamnya, ekonomi Islam bukan sekedar untuk ummat Islam semata tetapi bagi kaum non muslim sekalipun sangat terbuka, singkatnya kaum non Muslim yang memasuki dunia ekonomi Islam akan terlindungi hak-haknya.
Kita ingat krisis moneter tahun 1997/1998, dimana lembaga keuangan di berbagai belahan dunia mengalami kehancuran yang sangat luar biasa, dunia perbankan runtuh, dan tidak sedikit negara mengalami kegoncangan yang melahirkan penjarahan yang serius, sedangkan disisi lain ekonomi Islam (Lembaga Keuangan Syariah /LKS Bank misalnya) seperti contoh Bank Muamalat Indonesia bukannya ikut bangkrut justru mengalami keuntungan yang luar biasa. Menurut sumber yang terpercaya mereka (pegawai BMI) saat ini masih menikmati keuntungan dari dampak krisis moneter tersebut (sumber dari karyawan BMI).
Disaat perbankan konvesional hancur lumpuh kena gelombang krisis moneter justru perbankan Islam mengalami kenaikan/ kentungan yang luar biasa, hal ini banyak faktor penguat yaitu praktik yang dilakukan bank Islam/Syariah tidak menyalahi kodrat seperti uang diposisikan sesuai fungsinya yaitu hanya sebagai alat tukar, menjauhi bisnis spekulasi, tidak bertransaksi ganda dan tidak jelas, tidak judi, tidak melibatkan harta/uang dalam transaksi bisnis yang haram, bertransaksi jelas syarat dan rukunnya, adanya keterbukaan sistem kerjasama, pembiayaan yang berkeadilan seperti bagi hasil (Mudharabah, Musyarakah, Murabahah, Salam, Isthisna, Rahan dan lain sebagainya) menjadi solusi terbaik bagi seluruh ummat manusia.
Nah bagaimana dengan kita terutama para ekonom muslim, dosen muslim, pendidik muslim, praktisi bisnis muslim akankah tetap menerima ekonomi yang tidak bersyariah ? yang jelas sudah jauh dari tatanan Islam? Kita memiliki tanggungjawab yang berat untuk mengajak masyarakat melek terhadap urgensi ekonomi Islam, ummat perlu pemahaman yang utuh, lembaga pendidikan sudah saatnya memasukan ekonomi Islam sebagai mata pelajaran dan mata kuliah yang wajib diikuti. Sehingga dengan demikian umat Islam akan memiliki wawasan dan ilmu serta pemahaman ekonomi Islam yang benar, tidak lagi berpresepsi bahwa Ekonomi Islam sama saja dengan ekonomi konvesional…ohhh tidak bisa.
Jika akan mewujudkan ekonomi Islam maka perlu adanya pemahaman dan kesiapaan untuk mengamalkan, lebih jelasnya Agustianto menyebutkan Jika umat Islam memahami konsep ekonomni Islam dan siap mengamalkannya, maka kebangkitan ekonomi Islam dan peradaban ummat akan terwujud. Cuman persoalannya, masih terlalu banyak ummat Islam yang belum memahami ekonomi Islam. Minimnya pengetahuan ummat akan ekonomi Islam disebabkan karena nihilnya kajian-kajian ekonomi Islam oleh para ulama di tengah masyarakat mapun para sarjana Muslim tidak berani menyampaikannya karena takut hilang jabatan dan masa depannya dijauhi kaum kapitalis.
Kelemahan lain para da’i kondang selama nyam;paikan ini materi dakwah hanya berkutit pada ibadah ritual, sementara aspek mumalah (dalam aspek ekonomi keuangan) diabaikan sama sekali. Akibatnya ummat Islam buta dengan ekonominya sendiri, tidak lagi merasa dosa melakukan praktik haram dalam kesehariannya, al hasil pemahaman ekonomi konvensional telah mendarah daging telah merasuk dalam jiwanya bahkan sampai berani menghantam ekonominya sendiri.
Karena kondisi itu, tidak mengherankan jika masih banyak ummat Islam menganggap ekonomi Islam dan ekonomi konvensioal (Khususnya dunia perbankan) sama saja bahkan tidak sedikit seorang Muslim mengatakan ekonomi Islam lebih parah.
Pernyataan-pernyataan tersebut adalah anggapan orang yang dangkal ilmunya tentang ekonomi syariah dan tidak ada keyakinan yang kuat bahwa Islam adalah memiliki sumber yang kuat dan benar.
Al-quran sudah mengingatkan, orang-orang yang belum memahami syariah pasti akan menolak syariah (lihat al-jatsiyah ayat 18). Sebaliknya, orang-orang yang telah memahami syariah (dan menggunakan akal sehatnya/rasionya dalam kebenaran), pasti menerima syariah.
Fakta sudah membuktikan, banyak ahli ekonom muslim dunia menerima dan memahami keunggulkan ekonomi syariah, bahkan mereka menjadi pendekar-pendekar ekonomi syariah itu sendiri. Karena itu tidak ada seorangpun pakar ekonomi Islam yang membolehkan melakukan praktik yang dilarang syariah seperti bunga dalam perekonomian.
Semoga saya, saudaraku dan semua yang ada di muka bumi Indonesia ini tidak lama lagi akan menikmati ekonomi yang bersumber dari wahyu yang tidak diragukan lagi.
Quran ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini. QS. al-Jatsiyah (45) : 20
Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang memang benar.QS. al-Baqarah (2) : 23

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: